Lihat Sunset Memesona di Bangka, Asyiknya di Pulau Pongok

detikTravel Community - 

Menikmati keindahan sunset setelah seharian beraktivitas pastinya asyik. Kalau liburan di Bangka, salah satu spot yang oke buat menikmatinya adalah Pulau Pongok.

Perihal keelokan bahari Pulau Pongok, pulau kecil di sudut tenggara Pulau Bangka, semula hanya bisa saya dengar lewat beragam cerita. Orang-orang yang pernah menginjakkan kaki di Pulau Pongok selalu berujar bahwa Pulau Pongok itu cantiknya bukan main, terutama pemandangan lautnya yang  masih terjaga alami.



Ayah saya, yang lahir di pulau itu pun mengatakan hal yang sama. Alhasil, dari waktu ke waktu, lahirlah niat hendak menapakkan kaki di pulau itu. Suatu hari, niat itu terlaksana juga pada akhirnya.

Setelah tak kurang dari 1,5 jam mengarungi perairan Selat Lepar, selat kecil yang memisahkan antara Pulau Bangka dengan Pulau Lepar, lalu berbelok ke arah utara setelah sampai di ujung selatan salah satu sudut pulau kecamatan itu, kapal yang membawa kami dari Pelabuhan Sadai tadi mendekati sebuah daratan.

Lambat laun, daratan itu semakin menampakkan atap-atap rumah, pertanda bahwa pulau itu berpenghuni. Semakin lama, tampaklah oleh mata rumah-rumah penduduk beragam rupa. Ya, itulah Desa Pongok, salah satu desa di Kecamatan Kepulaun Pongok, Kabupaten Bangka Selatan.

Desa Pongok merupakan satu dari dua desa yang ada di Kecamatan Kepulauan Pongok, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ya, kecamatan ini memang hanya mempunyai dua desa saja, yakni Desa Pongok dan Desa Celagen.

Uniknya, dua desa ini hanya dipisahkan oleh lautan yang jaraknya tak lebih dari 500 meter. Menurut keterangan dari sejumlah warga, apabila air laut sedang surut, warga di Desa Pongok biasa berjalan kaki hendak menyeberang ke Desa Celagen yang terletak di pulau dengan nama yang sama dengan desa itu, begitu pula sebaliknya. Secara geografis, dua desa ini memang saling berhadap-hadapan.

Saat menapakkan kaki di daratan Pulau Pongok, aroma bahari memang kian kental terasa. Selain kapal-kapal nelayan dengan beragam bentuk berjejer di sepanjang bibir pulau, bagan tempat nelayan menangkap ikan, pemandangan warga yang sedang memancing di desa yang didominasi lautan ini menjadi ciri khas tersendiri.

Itulah sebabnya, setelah usai menghadiri acara pelantikan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten/Kota se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang digelar di halaman mess Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Selatan itu, kami segera menuju pelabuhan tempat di mana sebeluamnya kapal kami menepi. Ya, letaknya yang berada di sebelah barat pulau, cocok dijadikan tempat untuk menikmati fenomena matahari tenggelam.

Seraya mengantar Dwi Haryadi yang memutuskan ikut rombongan yang akan kembali ke daratan Pulau Bangka pada hari itu juga, saya bersama Pak Ibrahim ikut naik sebuah mobil pick up menuju sisi barat Pulau Pongok, tempat di mana pelabuhan utama berada.

Sesampainya di sana, kami mendapati senja di ujung barat yang mulai berpendar oranye. Sang raja siang tampak mulai menyelimuti diri dengan gelap yang mulai pekat, tepat di atas atap-atap rumah warga di Pulau Celagen. Senja yang begitu menakjubkan.



Orang-orang tampak mengabadikan peristiwa senja itu dengan bidikan kamera aneka rupa, termasuk mereka yang akan segera meninggalkan Pulau Pongok, sebelum akhirnya kapal yang membawa mereka pelan-pelan menjauh meninggalkan senja yang mulai berganti petang.

Senja akhirnya menghilang, berganti petang yang bersiap membawa waktu menghadap sang malam. Saya, Ibrahim dan kawan-kawan lain yang memutuskan untuk menginap beberapa malam di Pulau Pongok, kembali ke tempat semula. Setelah mandi, menunaikan ibadah menyembah Sang Khalik, makan malam yang sudah disiapkan di rumah salah seorang warga, kami berjalan kaki menelusuri setiap sudut Desa Pongok yang di antara malam yang sunyi.

Pada sebuah ruas jalan, kami singgah di sebuah warung yang menjajakan makanan khas Desa Pongok. Seraya bercakap-cakap dengan penjaga warung, kami menikmati setiap makanan yang kami pesan seraya besenda gurau di antara malam yang semakin sepi.

Dibawah ini adalah form untuk pendafataran BLT

Download Disini


Ya, begitulah Pulau Pongok dengan segala isinya yang meminjam istilah Pak Ibrahim, masih terjaga orisinalitasnya. Pulau Pongok, suatu saat saya pasti akan kembali.

Sumber : travel.detik.com